Simpan Rasa Sayangmu   
    Pada sutau pagi, aku baru mendengar kabar rencana kepindahan teman lamaku, Razki. Kabar itu kudengar dari saudara kembarku, Naima. Katanya, Razki kan pindah ke Klaten, mulai tahun ajaran baru. Menurutnya Razki akan bersekolah diSMP 1 Pedan juga. Dan ternyata benar.
    "Razki!" Aku kaget melihatnya.
    "Benarkan apa yang kukatakan?" Naima mengomentari kekagetanku.
    "Hai, Naura. Hai, Naima! Ternyata kalian sekolah di sini juga?" Razki masih mengingat kami, meskipun terkejut melihat kami di satu sekolah yang sama.
    "Ya, seperti yang kau lihat. Ternyata berita kepindahanmu tak hanya terucapdari mulut ke mulut saja." Jawabku seolah tak peduli.
    "Ya, itu fakta. Kalian duduk di kelas VIII A bukan?"
    "Darimana kau tahu?" Tanyaku.
    "Tentu saja dia tahu, dia kan melihat kita memasuki kelas VIII A dan sekarang kita berjumpa dengannya di kelas ini juga," sahut Naima.
    "Oh, bodohnya aku," aku sangat malu mengatakannya.
    "Dan kau akan duduk di kelas ini juga?" Tanyaku.
    "Kalau tidak untuk apa aku disini." Jawabnya.

    Tiba-tiba bel tanda masuk berdentang. Ibu guru memulai pelajaran dengan memperkenalkan Razki.
    "Selamat pagi, anak-anak!" Sapa Bu guru.
    "Selamat pagi, Bu!" Jawab murid-murid serempak.
    "Hari ini kalian akan mendapat teman baru.     Razki silakan kamu maju ke depan untuk memperkenalkan diri". Pinta ibu guru.
    "Baik, Bu".
    "Teman-teman perkenalkan nama saya Razki Afarhan. Saya biasa dipanggil Razki. Saya pindahan dari Bandung. Karena ayah saya ada dinas di Klaten saya ikut pindah. Dan akhinya saya memilih untuk sekolah di sini."Jelasnya.

    Ketika pelajaran, sebentar-sebentar aku menoleh ke arah Razki.Dan saat Razki menyadarinya, segera aku mengalihkan pandanganku ke arah ibu guru. Seolah aku memperhatikan betul akan apa yang beliau jelaskan, meskipun sebenarnya aku tidak mendengarkan.
    Beberapa hari kemudian sikapnya terhadapku tak jauh berbeda. Sampai akhirnya Naima menemukan pesan dari Razki dalam ponselku.
    "Ra, hp kamu bunyi, tuh".
    "Ntar dulu tangguh, nich." Aku tak terlalu mempedikannya, karena aku masih sibuk mengerjakan PR yang hampir selesai.
    "Sudah. . . Ini dilanjut nanti saja, lihat pesan ini dari siapa?Coba tebak!" Godanya.
    "Penting, ya?"
    "Oh, sangat."
    "Dari siapa, sich?" Tanyaku penasaran.
    "Dari R-a-z-k-i."
    "Razki! Untuk apa dia mengirim pesan untukku." Aku bingung.
    "Ya, mana aku tahu, baca saja sendiri".

    Segera aku membacanya, di dalamnya tertulis {Assalamu'alaikum. . .?}.
    Segera kubalas {Wa'alaikum salam, da apa?}
    {Kaifa khaluk(bagaimana kabarmu)? }Isi pesannya malah balik bertanya kepadaku.
    {Ana bi khoiri, walhamdulillah(aku baik-baik saja, segala puji bagi Allah)}
    {Sukron (terima kasih), Wassalamu'alaikum}Ia mengakhiri pesannya.
    {Na'am (iya), Wa'alaikum salam. } Kemudin aku menutupnya.

    Karena bingung mengetahui tingkah laku Razki yang berubah menjadi sangat baik padaku, aku meminta penapat Naima. Untuk mengatasi berjuta letakutanku. Aku takut kalau-kalau rasa sayang itu bersemi kembali dan suat hal tejadi.  Aku takut ayah dan bunda tidak mengizinkanku untuk menyandang status pacar anak orang. Aku paling takut Allah SWT tidak meridhoi jejak langkahku.
    "Nai, akhir-akhir ini kamu merasa ada yang aneh dari sikap Razki?" Tanyaku sungguh-sungguh.
    "Ya, aku merasa Razki menyukaimu lagi."
    "Lagi?" Aku serius, Nai."
    "Aku tujuhrius. Ya memang sejak MI kan kalian saling sua, hanya saja belum ada kesempatan untuk bersatu."
    "Itu kan sudah lama sekali, Nai."
    "Tapi, kamu masih ingat kan?"
    "Dikit, banyak yang enggaknya, he. .he." Candaku.

    Minggu-minggu ini Razki banyak mencuri perhatianku, pura-pura baca buku di perpustakaan, rajin mengerjakan PR. Tapi itu semua aneh dan sesuatu yang ajaib bagiku. Entah apa itu, aku tak ingin merusak semangatnya.
    Keanehan itu terjawab, ketika Razki menyatakan perasaanya melalui pesan singkat. Ketakutankupun memberontak, apa yang harus kulakukan. . . Aku pun berusaha untuk mempercayainya, tetapi ia malah berbalik meyakinkanku.
    "Kenapa harus aku? Masih banyak yang lebih dariku." Aku berusaha menghindar dari pertanyaannya.
    "Karena hanya kau yang mampu membuatku selalu nyaman bersamamu." jawabannya semakin memojokkanku.
    "Sungguh?"
    "Dengan kesungguhanku, aku ingin  mencoba menjadi yang terbaik untukmu, izinkan aku?"
    "Aku perlu waktu."
    "Ku tunggu secepatnya."

    Tak berapa lama kemudian, kuceritakan semuanya pada Naima, terapi Naima justru mendukung hubunganku dengannya.Di sisi lain aku tak berani menceritakannya pada bundaku. Akhirnya beberapa hari kemudian aku menerima cinta kunang-kunangnya itu. Ku tangguhkan rasa takutku demi rasa sayangnya. Aku tak ingin merusaksemangatnya akhir-akhir ini.
    Dua hari kemudian ia mengajakku kencan. Dan hari itu adalah Sabtu malam. Ayah dan bunda tentu berbulat tekad tak mengizinkank pergi. Naima pun demikian, meskipun dia mendukung hubunganku dengan Razki, ia tak mengizinkanku berbuat macam-macam. Lantas ia menyarankanku untuk kencan ke arah yang positif.
    "Ra, kalau kamu ada waktu, jalan yuk?' Ajaknya.
    "Maaf, kalau sekarang aku tidak bisa, bagaimana kalau besok pagi?"
    "Ya sudahlah."
    "Waktu dan tempatnya aku yang menentukan."

    Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan pengingat. Yang isinya mengajaknya untuk badminton bersama besok pagi pukul 06.00 setelah aku menyapu halaman. Pesan itu akan ku kirim sekarang. Dan berbunyi  sebagai alarm pukul 04.15 besok.
    Aku sangat menikmati olahraga itu. Meskipun aku dikalahkannya dalam dua babak. Wajar saja ia sangat mahir dalam bidang olahraga. Sebelumnya aku tak punya cukup minat dalam berolahraga. Tetapi berkat ia aku mempunyai motivasi terus untuk berolaraga. Ide kencan Naima memang menyenangkan dan bermanfaat.

    Begitu juga sebaliknya, saat ia kesusahan mengerjakan PR Matematika aku membantu menyelesaikannya. Dengan demikian kami aling melengkapi kekuragan masing-masing.
    Di samping kesenanganku, ketakutankupun memuncak, saat aku ditanya bunda.
    "Kamu dari mana?"
    "Habis badminton,Bu."
    "Tumben kamu mau olahraga?"
    "Emh, besok penilaian ada tentang bulu tangkis, Bu."
    "Oh, begitu."

    Setelah bersih-bersih dan mencuci pakaian aku pun membersihkan badanku dengan cara mandi. Lalu kudengarkan  radio, tema dan waktu yang tepat kutemukan dalam siaran radio RPM Family.
    Dalam siaran itu, kudapati keharaman berpacaran tanpa ikatan pernikahan. Ditambah ceramah dari bapak ibu guru di sekolah dan pengajian ahad pagi kudapati hal serupa. Al-Qur'an benar, pacaran itu mendekati zina. Mendekati zina saja dilarang.
    Ya Allah  ampunilah dosa-dosaku, tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Engkau ridhoi bukan jalan orang-orang yang engku murkai.
    Dan akirnya aku memutuskan untuk bersahabat dengan Razki. Ku jelaskan padanya bahwa bersahabat itu leih baik daripada pacaran.Perlahan Razki pun bisa menerima.
. .

0 komentar:

Posting Komentar